07 Desember 2024

Terapi Hiperbarik

 

Definisi dan Sejarah Terapi Oksigen Hiperbarik


Terapi oksigen hiperbarik mempunyai pengertian yang hampir serupa dalam treatment atau terapi yang dilakukan di beberapa pusat kesehatan, menyangkut pernafasan dengan oksigen murni seperti pada Baromedical (2016) atau Rumah Sakit Paru Jember (2015). Mengacu pada hyperbaric medicine unit Royal Adelaide Hospital (2015), hyperbaric oxygen therapy (HBO) atau terapi oksigen hiperbarik (TOHB) adalah terapi dengan pernapasan 100% oksigen murni dalam treatment chamber, pada tekanan lebih tinggi dari tekanan permukaan laut (sea-level pressure), yaitu lebih besar dari 1 atmosphere absolut: ATA. Keadaan tersebut juga dapat dialami pada saat seseorang menyelam (Hermanto dan Taufiqurrahman, 2015).

Sejak tahun 1662 dokter Henshaw (Inggris) memulai membangun RUBT untuk mengobati beberapa jenis penyakit. Penggunaan udara bertekanan tinggi dan TOHB dalam klinis terus berkembang, meskipun mengalami pasang surut. Sampai pada tahun 1921 dr. J. Cunningham mulai mengemukakan teori dasar tentang penggunaan TOHB untuk mengobati keadaan hipoksia. Namun usahanya mengalami kegagalan karena dasar untuk TOHB selama kurang lebih 270 tahun mengalami pasang surut yang disebabkan belum ada teori fisiologi yang tepat untuk penggunaannya dalam terapi, termasuk penelitian pada binatang percobaan dan penelitian klinis (Jain, 1999).

Tahun 1930 penelitian-penelitian tentang penggunaan TOHB mulai dilaksanakan dengan lebih terarah dan mendalam. Sampai kemudian sekitar tahun 1960 dr. Borrema memaparkan hasil penelitiannya tentang penggunaan TOHB yang larut secara fisik di dalam cairan darah. Hasil penelitiannya tentang pengobatan gas gangren dengan TOHB membuat ia dikenal sebagai Bapak RUBT. Sejak saat itu TOHB berkembang pesat dan terus berlanjut sampai saat ini. Sedangkan perkembangan hiperbarik di Indonesia dikembangkan oleh TNI AL (Menkes, 2008)

Pengenalan Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT)

Ruang udara bertekanan tinggi atau disingkat dengan RUBT merupakan suatu tabung yang terbuat dari plat baja atau alumunium alloy dan dibuat sedemikian rupa sehingga mampu diisi udara mulai dari tekanan 1 ATA sampai beberapa ATA, tergantung dari jenis dan penggunaannya. Saat ini RUBT merupakan alat pendukung untuk kegiatan yang berhubungan dengan tekanan lebih dari 1 ATA (Mahdi et al., 2009).

Ukuran, bentuk dan kapasitas tekanan RUBT sangat bervariasi tergantung dari jenis penyakitnya, berikut jenis-jenis RUBT:

a) RUBT Ruang Ganda (multiplace chamber).

RUBT ini dapat digunakan untuk pengobatan bersama beberapa pasien, dimana pasien bernafas melalui masker yang menutup mulut dan hidung. Tekanan yang digunakan mencapai 6 ATA (Perry Baromedical, 2015b).

b) RUBT Ruang Tunggal (monoplace chamber)

Pada tipe RUBT ruang tunggal pasien dapat dipindahkan ke dalam RUBT dengan oksigen yang diisi sesuai tekanan, yaitu tidak lebih dari 3 ATA yang digunakan untuk penanganan pasien individu, kasus infeksi, dan perawatan intensif.

c) RUBT Pengangkut (mobile / portable)

RUBT yang dapat dipindahkan dan bergerak langsung berfungsi di lokasi, bahkan di tempat parkir RS. Tipe ini sangat ideal untuk mendukung operasi militeryang difungsikan sebagai rumah sakit di medan tempur.

d) RUBT untuk testing dan latihan penyelam

RUBT jenis ini digunakan untuk proses simulasi sesuai dengan kedalaman penyelaman saat akan dilakukan latihan penyelaman militer.

e) Smaal hyperbaric chamber

RUBTini digunakan untuk neonatus dan hewan percobaan (Nining, 2009).

 

Pemilihan Tipe RUBT

Setiap jenis tipe ruang udara bertekanan tinggi memiliki klasifikasinya masing-masing agar dapat digunakan untuk indikasi penyakit tertentu. Berikut jenis tipe RUBT beserta tipe tekanan dan indikasi penyakitnya :

Tipe Tekanan

Tipe

Indikasi

Sampai 1,5 ATA

RUBT Ruang Tunggal dan RUBT Ruang Ganda

Iskemi serebral, iskemi kardiak, iskemi peripheral vaskuler dan pengobatan tambahan untuk kebugaran, kedokteran,olahraga, skin flaps dan trauma akustik

 

Sampai 2,5 ATA

Non portable dan portable

Gas gangren, luka bakar dan crush injury pada ujung lengan / kaki

 

Sampai 3 ATA

Non portable dan portable

 

Penanganan darurat pada penyakit dekompresi

Sampai 6 ATA

RUBT Ruang Ganda

Emboli udara dan dekompresi

 

 

Untuk mengetahui besarnya tekanan dalam RUBT dipergunakan barometer yang berfungsi mengukur tekanan udara luar. Sedangkan alat yang dipergunakan mengukur tekanan gas dalam suatu ruangan dinamakan manometer. Manometer ada dua, yaitu manometer tertutup dan manometer terbuka (Chang, 2004)

Pengamanan RUBT

RUBT harus digunakan secara hati-hati karena menggunakan bahan utama berupa oksigen yang mudah terbakar, sehingga perlu ada pengamanan yang dilakukan sebelum dioperasikan. Langkah-langkah pengamanan sebagai berikut:

a) Valve-valve dalam keadaan tertutup

b) Manometer dalam kondisi baik

c) Inhalator sumber oksigen dalam kondisi baik

d) Tidak ada unsur udara yang merugikan kesehatan

e) Alat komunikasi berfungsi baik

f) Aliran listrik baik, tidak ada kerusakan kabel-kabelnya

g) Jendela RUBT dalam kondisi baik

h) Tidak ada bahan-bahan yang mudah terbakar

i) Sistem pemadam kebakaran bekerja dengan baik (Mahdi et al., 2009).

 

Aspek Fisiologi Oksigen Hiperbarik

Prinsip secara fisiologis pada TOHB bahwa tidak adanya oksigen pada tingkat seluler akan menyebabkan gangguan kehidupan pada semua organisme. O2 yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam tubuh melalui cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan difusi. Dengan kondisi TOHB, diharapkan matriks seluler menopang kehidupan suatu organisme mendapatkan kondisi yang optimal (Kompas TV, 2013).

Rongga-rongga udara fisiologis dalam tubuh memiliki saluran penghubung yang memungkinkan penyamaan tekanan (equalisasi) antara udara dalam rongga dengan tekanan sekeliling. Apabila hal tersebut gagal akan terjadi barotaruma. Barotrauma adalah kerusakan jaringan akibat perbedaan tekanan udara. Berdasarkan patogenesisnya dibedakan menjadi barotrauma waktu turun (descent barotrauma) dan barotrauma waktu naik (ascent barotrauma) (Prasetyoet al., 2012).

Mekanisme TOHB

Pada terapi oksigen hiperbarik terdapat mekanisme dengan memodulasi nitrit okside (NO) pada sel endotel yang juga dapat meningkatkan vascular endotel growth factor (VEGF). Melalui siklus Krebs terjadi peningkatan nucleotide acid dihidroxi (NADH) yang memicu peningkatan fibroblast. Fibroblast diperlukan untuk sintesis proteoglikan dan bersama dengan VEGF akan memacu kolagen sintesis pada proses remodeling, salah satu tahapan dalam penyembuhan luka. Pemberian oksigen hiperbarik pada luka akan berfungsi menurunkan infeksi dan edema (Huda, 2010).

Mekanisme pada penyembuhan luka diabetes dengan terapi oksigen hiperbarik diawali dengan adanya pembuluh darah yang rusak dan menyebabkan aliran darah kurang lancar. Untuk memperbaiki sel yang rusak pada proses penyembuhan luka membutuhkan zat-zat makanan dan pembentukan sel membutuhkan metabolisme. Metabolisme membutuhkan oksigen sebagai energi. Dengan menggunakan TOHB meskipun aliran darah sedikit tapi cairan darah tersebut kaya akan oksigen, sehingga kebutuhan oksigen untuk memperbaiki sel cukup (Savenadia, 2014).

Prosedur Penatalaksanaan TOHB

Adapun prosedur yang dilakukan saat terapi oksigen hiperbarik berlangsung adalah sebagai berikut:

a. Sebelum Terapi Hiperbarik Oksigen

Dokter jaga TOHB dan perawat (tender) melaksanakan :

1) Anamnesis

2) Pemeriksaan fisik lengkap

3) X-foto thorak PA

4) Pemeriksaan tambahan bila dianggap perlu

5) Menerangkan manfaat, efek samping, proses dan program TOHB yaitu:

(a) Terapi dilaksanakan di dalam RUBT

(b) Cara adaptasi terhadap perubahan tekanan : manuver valsava / equalisasi.

Adapun langkah yang dilakukan untuk menyeimbangan tekanan dalam telinga yaitu buka tutup mulut, menelan ludah atau memakan permen dan dengan maneuver valsava atau menutup mulut dan hidung seperti orang membuang cairan dalam hidung (Savenadia, 2014).

b. Selama Terapi Hiperbarik Oksigen

1) Selama proses kompresi, perawat membantu adaptasi peserta TOHB terhadap peningkatan tekanan lingkungan

2) Selama proses menghirup O2 100%

(a) Observasi tanda-tanda intoksikasi oksigen, seperti pucat, keringat dingin, twitching, mual, muntah dan kejang. Bila terjadi hal tersebut, perawat akan memberitahukan kepada petugas diluar bahwa terapi dihentikan sementara sampai menunggu kondisi pasien baik

(b) Observasi tanda-tanda vital dan keluhan peserta TOHB

(c) Untuk kasus penyelaman, observasi sesuai keluhan seperti rasa nyeri (Lakesla, 2015).

3) Selama proses dekompresi perawat membantu adaptasi pasienTOHB terhadap pengurangan tekanan lingkungan dengan maneuver valsava, menelan ludah atau minum air putih (Supondha, 2015).

c. Setelah Terapi Hiperbarik Oksigen

Dokter dan perawat jaga melaksanakan anamnesis setelah terapi, evaluasi penyakit, evaluasi ada tidaknya efek samping. Bila kondisi baik maka pasien akan dikembalikan ke ruang perawatan seperti semula (Huda, 2010)

 

Pengaruh TOHB

Ada dua efek yang didapatkan dari TOHB yaitu efek mekanik dan efek fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui mekanisme oksigen yang terlarut dalam plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma. Efek mekanik yaitu meningkatnya tekanan lingkungan yang memberikan manfaat penurunan volume gelembung gas atau udara seperti pada terapi penderita dekompresi dan gas emboli (Lakesla, 2015).

Efek peningkatan tekanan parsial oksigen dalam darah dan jaringan juga memberikan manfaat terapeutik pada manusia karena dapat digunakan sebagai salah satu terapi adjuvan pada cedera jaringan lunak yang mengalami iskemia dan luka bakar (Hermanto dan Taufiqurrahman, 2015). Terapi ini terbukti efektif dalam berbagai kondisi medis, baik sebagai perawatan kesehatan primer atau perawatan medis lainnya seperti antibiotik atau operasi (Baromedical, 2016).

Pengaruh TOHB akan menyebabkan meningkatnya tekanan parsial O2 pada jaringan dan kandungan oksigen yang terlarut dalam plasma, hal ini dapat melawan efek hipoksia pada jaringan yang mengalami luka dan meningkatkan kualitas jaringan yang terbentuk. Manfaat yang dihasilkan dari pengobatan hiperbarik dapat digunakan untuk menyembuhkan luka atau penyakit (Prabowo, 2014). Terdapat jenis-jenis pengobatan yang dapat disembuhkan dengan TOHB yang terbagi sebagai berikut:

1.     Sebagai pengobatan utama, yaitu untuk penyakit-penyakit akibat penyelaman dan kegiatan kelautan, seperti :

a) Penyakit dekompresi

b) Emboli udara

c) Luka bakar

d) Keracunan gas karbon monoksida (CO)

e) Crush injury (Pemimpin Redaksi, 2016).

 

2.     Sebagai pengobatan tambahan, yaitu untuk :

a) Gas gangren

b) Komplikasi diabetes mellitus (gangren diabeticum)

c) Eritema nodosum

d) Osteomyelitis

e) Morbus Hansen

f) Psoriasis vulgaris

g) Edema serebral

h) Lupus erimatosus (SLE) dan rheumatoid artritis (Wahyudi, 2016).

3.     Sebagai pengobatan pilihan lain, yaitu untuk :

a) Pelayanan kesehatan, kebugaran dan olahraga

b) Pasien lanjut usia (geriatri)

c) Dermatologi dan kecantikan (Menkes, 2008)

 

4.     Sebagai penunjang diagnostik, yaitu untuk pasien rawat inap dengan :

a) Penyakit dekompresi berat dengan kelumpuhan (parese & plegi)

b) Penyakit dekompresi berat dengan incontinentia urine dan hematuria

c) Penyakit dekompresi berat dengan disertai penyakit jantung

d) Penyakit dekompresi berat dengan pneumonia (Menkes, 2008).

Untuk kasus seperti dekompresi dapat disembuhkan dengan menggunakan terapi oksigen hiperbarik dengan dikompresi hingga bertekananan 60 fsw (Davis, 1979). Sedangkan pengobatan-pengobatan di atas dilaksanakan rawat bersama antara pelayanan medik hiperbarik dengan rumah sakit yang terkait.

Secara umum TOHB tetap memiliki beberapa resiko penyakit yang perlu diwaspadai seperti barotruma telinga, sinus paranalis, dekompresi, keracunan oksigen, temporerer myopia dan intoksikasi akut oksigen (Gill dan Bell, 2004). Meskipun oksigen memiliki efek positif jika pemberiannya diberikan secara terus menerus tanpa interval tertentu akan menyebabkan terbentuknya banyak senyawa radikal bebas seperti reactive oxygen spesies (ROS) yang akan merusak jaringan dan mengakibatkan nekrosis jaringan dengan gejala mual, berkeringat, batuk kering, sakit dada dan kedutan (Dwipayana dan Prijambodo, 2010)

Terapi Hiperbarik

  Definisi dan Sejarah Terapi Oksigen Hiperbarik Terapi oksigen hiperbarik mempunyai pengertian yang hampir serupa dalam treatment atau te...