Definisi dan Sejarah Terapi Oksigen Hiperbarik
Terapi oksigen hiperbarik mempunyai pengertian
yang hampir serupa dalam treatment atau terapi yang dilakukan di beberapa pusat
kesehatan, menyangkut pernafasan dengan oksigen murni seperti pada Baromedical
(2016) atau Rumah Sakit Paru Jember (2015). Mengacu pada hyperbaric medicine
unit Royal Adelaide Hospital (2015), hyperbaric oxygen therapy (HBO) atau
terapi oksigen hiperbarik (TOHB) adalah terapi dengan pernapasan 100% oksigen
murni dalam treatment chamber, pada tekanan lebih tinggi dari tekanan permukaan
laut (sea-level pressure), yaitu lebih besar dari 1 atmosphere absolut: ATA.
Keadaan tersebut juga dapat dialami pada saat seseorang menyelam (Hermanto dan
Taufiqurrahman, 2015).
Sejak tahun 1662 dokter Henshaw (Inggris)
memulai membangun RUBT untuk mengobati beberapa jenis penyakit. Penggunaan
udara bertekanan tinggi dan TOHB dalam klinis terus berkembang, meskipun
mengalami pasang surut. Sampai pada tahun 1921 dr. J. Cunningham mulai
mengemukakan teori dasar tentang penggunaan TOHB untuk mengobati keadaan
hipoksia. Namun usahanya mengalami kegagalan karena dasar untuk TOHB selama
kurang lebih 270 tahun mengalami pasang surut yang disebabkan belum ada teori
fisiologi yang tepat untuk penggunaannya dalam terapi, termasuk penelitian pada
binatang percobaan dan penelitian klinis (Jain, 1999).
Tahun 1930 penelitian-penelitian tentang
penggunaan TOHB mulai dilaksanakan dengan lebih terarah dan mendalam. Sampai
kemudian sekitar tahun 1960 dr. Borrema memaparkan hasil penelitiannya tentang
penggunaan TOHB yang larut secara fisik di dalam cairan darah. Hasil
penelitiannya tentang pengobatan gas gangren dengan TOHB membuat ia dikenal
sebagai Bapak RUBT. Sejak saat itu TOHB berkembang pesat dan terus berlanjut
sampai saat ini. Sedangkan perkembangan hiperbarik di Indonesia dikembangkan
oleh TNI AL (Menkes, 2008)
Pengenalan Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT)
Ruang udara bertekanan tinggi atau disingkat
dengan RUBT merupakan suatu tabung yang terbuat dari plat baja atau alumunium
alloy dan dibuat sedemikian rupa sehingga mampu diisi udara mulai dari tekanan
1 ATA sampai beberapa ATA, tergantung dari jenis dan penggunaannya. Saat ini
RUBT merupakan alat pendukung untuk kegiatan yang berhubungan dengan tekanan
lebih dari 1 ATA (Mahdi et al., 2009).
Ukuran, bentuk dan kapasitas tekanan RUBT
sangat bervariasi tergantung dari jenis penyakitnya, berikut jenis-jenis RUBT:
a) RUBT Ruang Ganda (multiplace chamber).
RUBT ini dapat digunakan untuk pengobatan
bersama beberapa pasien, dimana pasien bernafas melalui masker yang menutup
mulut dan hidung. Tekanan yang digunakan mencapai 6 ATA (Perry Baromedical,
2015b).
b) RUBT Ruang Tunggal (monoplace chamber)
Pada tipe RUBT ruang tunggal pasien dapat
dipindahkan ke dalam RUBT dengan oksigen yang diisi sesuai tekanan, yaitu tidak
lebih dari 3 ATA yang digunakan untuk penanganan pasien individu, kasus
infeksi, dan perawatan intensif.
c) RUBT Pengangkut (mobile / portable)
RUBT yang dapat dipindahkan dan bergerak
langsung berfungsi di lokasi, bahkan di tempat parkir RS. Tipe ini sangat ideal
untuk mendukung operasi militeryang difungsikan sebagai rumah sakit di medan
tempur.
d) RUBT untuk testing dan latihan penyelam
RUBT jenis ini digunakan untuk proses simulasi
sesuai dengan kedalaman penyelaman saat akan dilakukan latihan penyelaman
militer.
e) Smaal hyperbaric chamber
RUBTini digunakan untuk neonatus dan hewan
percobaan (Nining, 2009).
Pemilihan Tipe RUBT
Setiap jenis tipe ruang udara bertekanan
tinggi memiliki klasifikasinya masing-masing agar dapat digunakan untuk
indikasi penyakit tertentu. Berikut jenis tipe RUBT beserta tipe tekanan dan
indikasi penyakitnya :
|
Tipe Tekanan |
Tipe |
Indikasi |
|
Sampai 1,5 ATA |
RUBT Ruang Tunggal dan RUBT Ruang Ganda |
Iskemi serebral, iskemi kardiak, iskemi peripheral vaskuler dan
pengobatan tambahan untuk kebugaran, kedokteran,olahraga, skin flaps dan
trauma akustik |
|
Sampai 2,5 ATA |
Non portable dan portable |
Gas gangren, luka bakar dan crush injury pada ujung lengan / kaki |
|
Sampai 3 ATA |
Non portable dan portable |
Penanganan darurat pada penyakit dekompresi |
|
Sampai 6 ATA |
RUBT Ruang Ganda |
Emboli udara dan dekompresi |
Untuk mengetahui besarnya tekanan dalam RUBT
dipergunakan barometer yang berfungsi mengukur tekanan udara luar. Sedangkan
alat yang dipergunakan mengukur tekanan gas dalam suatu ruangan dinamakan
manometer. Manometer ada dua, yaitu manometer tertutup dan manometer terbuka
(Chang, 2004)
Pengamanan RUBT
RUBT harus digunakan secara hati-hati karena
menggunakan bahan utama berupa oksigen yang mudah terbakar, sehingga perlu ada
pengamanan yang dilakukan sebelum dioperasikan. Langkah-langkah pengamanan
sebagai berikut:
a) Valve-valve dalam keadaan tertutup
b) Manometer dalam kondisi baik
c) Inhalator sumber oksigen dalam kondisi baik
d) Tidak ada unsur udara yang merugikan
kesehatan
e) Alat komunikasi berfungsi baik
f) Aliran listrik baik, tidak ada kerusakan
kabel-kabelnya
g) Jendela RUBT dalam kondisi baik
h) Tidak ada bahan-bahan yang mudah terbakar
i) Sistem pemadam kebakaran bekerja dengan
baik (Mahdi et al., 2009).
Aspek Fisiologi Oksigen Hiperbarik
Prinsip secara fisiologis pada TOHB bahwa
tidak adanya oksigen pada tingkat seluler akan menyebabkan gangguan kehidupan
pada semua organisme. O2 yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam
tubuh melalui cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas
terdiri dari fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan difusi. Dengan kondisi
TOHB, diharapkan matriks seluler menopang kehidupan suatu organisme mendapatkan
kondisi yang optimal (Kompas TV, 2013).
Rongga-rongga udara fisiologis dalam tubuh
memiliki saluran penghubung yang memungkinkan penyamaan tekanan (equalisasi)
antara udara dalam rongga dengan tekanan sekeliling. Apabila hal tersebut gagal
akan terjadi barotaruma. Barotrauma adalah kerusakan jaringan akibat perbedaan
tekanan udara. Berdasarkan patogenesisnya dibedakan menjadi barotrauma waktu
turun (descent barotrauma) dan barotrauma waktu naik (ascent barotrauma)
(Prasetyoet al., 2012).
Mekanisme TOHB
Pada terapi oksigen hiperbarik terdapat
mekanisme dengan memodulasi nitrit okside (NO) pada sel endotel yang juga dapat
meningkatkan vascular endotel growth factor (VEGF). Melalui siklus Krebs
terjadi peningkatan nucleotide acid dihidroxi (NADH) yang memicu peningkatan
fibroblast. Fibroblast diperlukan untuk sintesis proteoglikan dan bersama
dengan VEGF akan memacu kolagen sintesis pada proses remodeling, salah satu
tahapan dalam penyembuhan luka. Pemberian oksigen hiperbarik pada luka akan
berfungsi menurunkan infeksi dan edema (Huda, 2010).
Mekanisme pada penyembuhan luka diabetes
dengan terapi oksigen hiperbarik diawali dengan adanya pembuluh darah yang
rusak dan menyebabkan aliran darah kurang lancar. Untuk memperbaiki sel yang
rusak pada proses penyembuhan luka membutuhkan zat-zat makanan dan pembentukan
sel membutuhkan metabolisme. Metabolisme membutuhkan oksigen sebagai energi.
Dengan menggunakan TOHB meskipun aliran darah sedikit tapi cairan darah
tersebut kaya akan oksigen, sehingga kebutuhan oksigen untuk memperbaiki sel
cukup (Savenadia, 2014).
Prosedur Penatalaksanaan TOHB
Adapun prosedur yang dilakukan saat terapi
oksigen hiperbarik berlangsung adalah sebagai berikut:
a. Sebelum Terapi Hiperbarik Oksigen
Dokter jaga TOHB dan perawat (tender)
melaksanakan :
1) Anamnesis
2) Pemeriksaan fisik lengkap
3) X-foto thorak PA
4) Pemeriksaan tambahan bila dianggap perlu
5) Menerangkan manfaat, efek samping, proses
dan program TOHB yaitu:
(a) Terapi
dilaksanakan di dalam RUBT
(b) Cara adaptasi
terhadap perubahan tekanan : manuver valsava / equalisasi.
Adapun langkah yang dilakukan untuk
menyeimbangan tekanan dalam telinga yaitu buka tutup mulut, menelan ludah atau
memakan permen dan dengan maneuver valsava atau menutup mulut dan hidung
seperti orang membuang cairan dalam hidung (Savenadia, 2014).
b. Selama Terapi Hiperbarik Oksigen
1) Selama proses kompresi, perawat membantu
adaptasi peserta TOHB terhadap peningkatan tekanan lingkungan
2) Selama proses menghirup O2 100%
(a) Observasi
tanda-tanda intoksikasi oksigen, seperti pucat, keringat dingin, twitching,
mual, muntah dan kejang. Bila terjadi hal tersebut, perawat akan memberitahukan
kepada petugas diluar bahwa terapi dihentikan sementara sampai menunggu kondisi
pasien baik
(b) Observasi
tanda-tanda vital dan keluhan peserta TOHB
(c) Untuk kasus
penyelaman, observasi sesuai keluhan seperti rasa nyeri (Lakesla, 2015).
3) Selama proses dekompresi perawat membantu
adaptasi pasienTOHB terhadap pengurangan tekanan lingkungan dengan maneuver
valsava, menelan ludah atau minum air putih (Supondha, 2015).
c. Setelah Terapi Hiperbarik Oksigen
Dokter dan perawat jaga melaksanakan anamnesis
setelah terapi, evaluasi penyakit, evaluasi ada tidaknya efek samping. Bila
kondisi baik maka pasien akan dikembalikan ke ruang perawatan seperti semula
(Huda, 2010)
Pengaruh TOHB
Ada dua efek yang didapatkan dari TOHB yaitu
efek mekanik dan efek fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui
mekanisme oksigen yang terlarut dalam plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan
meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma. Efek
mekanik yaitu meningkatnya tekanan lingkungan yang memberikan manfaat penurunan
volume gelembung gas atau udara seperti pada terapi penderita dekompresi dan
gas emboli (Lakesla, 2015).
Efek peningkatan tekanan parsial oksigen dalam
darah dan jaringan juga memberikan manfaat terapeutik pada manusia karena dapat
digunakan sebagai salah satu terapi adjuvan pada cedera jaringan lunak yang
mengalami iskemia dan luka bakar (Hermanto dan Taufiqurrahman, 2015). Terapi
ini terbukti efektif dalam berbagai kondisi medis, baik sebagai perawatan
kesehatan primer atau perawatan medis lainnya seperti antibiotik atau operasi
(Baromedical, 2016).
Pengaruh TOHB akan menyebabkan meningkatnya
tekanan parsial O2 pada jaringan dan kandungan oksigen yang terlarut dalam
plasma, hal ini dapat melawan efek hipoksia pada jaringan yang mengalami luka
dan meningkatkan kualitas jaringan yang terbentuk. Manfaat yang dihasilkan dari
pengobatan hiperbarik dapat digunakan untuk menyembuhkan luka atau penyakit
(Prabowo, 2014). Terdapat jenis-jenis pengobatan yang dapat disembuhkan dengan
TOHB yang terbagi sebagai berikut:
1.
Sebagai pengobatan utama, yaitu
untuk penyakit-penyakit akibat penyelaman dan kegiatan kelautan, seperti :
a) Penyakit
dekompresi
b) Emboli udara
c) Luka bakar
d) Keracunan gas
karbon monoksida (CO)
e) Crush injury
(Pemimpin Redaksi, 2016).
2.
Sebagai pengobatan tambahan, yaitu
untuk :
a) Gas gangren
b) Komplikasi
diabetes mellitus (gangren diabeticum)
c) Eritema nodosum
d) Osteomyelitis
e) Morbus Hansen
f) Psoriasis
vulgaris
g) Edema serebral
h) Lupus
erimatosus (SLE) dan rheumatoid artritis (Wahyudi, 2016).
3.
Sebagai pengobatan pilihan lain,
yaitu untuk :
a) Pelayanan
kesehatan, kebugaran dan olahraga
b) Pasien lanjut
usia (geriatri)
c) Dermatologi dan
kecantikan (Menkes, 2008)
4.
Sebagai penunjang diagnostik,
yaitu untuk pasien rawat inap dengan :
a) Penyakit
dekompresi berat dengan kelumpuhan (parese & plegi)
b) Penyakit
dekompresi berat dengan incontinentia urine dan hematuria
c) Penyakit
dekompresi berat dengan disertai penyakit jantung
d) Penyakit
dekompresi berat dengan pneumonia (Menkes, 2008).
Untuk kasus seperti dekompresi dapat
disembuhkan dengan menggunakan terapi oksigen hiperbarik dengan dikompresi
hingga bertekananan 60 fsw (Davis, 1979). Sedangkan pengobatan-pengobatan di
atas dilaksanakan rawat bersama antara pelayanan medik hiperbarik dengan rumah
sakit yang terkait.
Secara umum TOHB tetap memiliki beberapa
resiko penyakit yang perlu diwaspadai seperti barotruma telinga, sinus
paranalis, dekompresi, keracunan oksigen, temporerer myopia dan intoksikasi
akut oksigen (Gill dan Bell, 2004). Meskipun oksigen memiliki efek positif jika
pemberiannya diberikan secara terus menerus tanpa interval tertentu akan
menyebabkan terbentuknya banyak senyawa radikal bebas seperti reactive oxygen
spesies (ROS) yang akan merusak jaringan dan mengakibatkan nekrosis jaringan
dengan gejala mual, berkeringat, batuk kering, sakit dada dan kedutan
(Dwipayana dan Prijambodo, 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar